
- Movie : Persepolis
- Cast : Dubber
Review : Persepolis adalah sebuah film kartun yang diadaptasi dari novel grafis Marjane Satrapi yang bersifat autobiografi. Kartun pasti identik dengan desain visual dan karakter serta cerita yang tidak masuk akal. Benarkah?
Satu hal yang membuat saya tertarik dengan film Persepolis ini adalah sifatnya yang melawan. Ada semangat perlawanan yang saya tangkap dari film ini.
Pertama, desain visual yang membuat karya animasi ini terlihat sangat berbeda jika dibandingkan dengan film kartun lain kebanyakan.
Kedua, cerita yang ditawarkan yang sepenuhnya adalah perjalanan hidup pribadi penulis yang penuh dengan perlawanan.
Untuk lebih jelas, saya akan menguraikan film ini menjadi tiga bagian.
Bagian pertama : Adalah saat dimana Marjane masih kanak-kanak. Pada bagian ini juga akan diceritakan mengenai latar keluarga Marjane yang cenderung ke"kirian" dalam hal politik dan memberi pengaruh kepada Marjane yang memiliki selera yang berbeda dari anak-anak seusianya pada umumnya. Ya, seorang Marjane adalah penggila Bruce-Lee pada usia sekitar sembilan tahun? Dan menggemari musik Iron Maiden?
Bagian kedua : Adalah saat dimana Marjane harus dipindahkan ke Vienna seorang diri, sebuah daerah di Prancis yang menyebabkannya menjadi seorang pengembara baik dari segi intelektual dan pergaulan. Ada kisah mengenai pertemanannya dengan kelompok hippies, dan percintaannya dengan remaja Prancis yang berakhir dengan perselingkuhan, juga giatnya Marjane mempelajari literatur-literatur seperti Karl Marx dan Bakunin. Pada saat bersamaan, Marjane malah mengalami depresi dan memutuskan untuk pulang ke Iran.
Bagian ketiga : Adalah saat dimana Marjane mulai menemukan gairah hidupnya kembali dan mulai berkuliah. Pada bagian ini juga Marjane jatuh cinta dengan seorang pria Iran dan akhirnya memutuskan untuk menikah yang akhirnya berakhir dengan perceraian. Kehilangan orang terdekatnya, yaitu neneknya dan menjadi akhir dari film ini.
Sebelumnya saya ingin menyertakan Persepolis dalam issue keISLAM-an, karena film ini juga berhasil menggambarkan bagaimana rezim muslim berkuasa. Represif dan Penuh Dengan Tekanan. Bagaimana cara berpakaian diatur dengan paksa, dan tidak adanya segi toleransi terhadap perkembangan pemikiran, dimana orang-orang yang mempelajari komunis harus diberangus, dan adanya polisi jaga yang menyebabkan ketakutan dan kepatuhan yang dipaksakan. Islam bukanlah agama dogma dan saya yakin terhadap hal tersebut.
Persepolis adalah opini pribadi yang dituturkan dengan gaya penulisan diary yang cukup aneh. Pesan saya, tonton film ini dua kali.
.Hmm .
No comments:
Post a Comment