
Movie : Marie Antoinette
Cast : Kirsten Dunst, Jason Schwartzman
Director : Sofia Coppola
Review : Ada yang bilang (review dalam sebuah blog), bahwa film Marie Antoinette ini adalah lanjutan dari film Sofia Coppola sebelumnya Lost In Translataion (LIT) yang rencananya akan dikemas dalam bentuk trilogy. Saya juga sempat bingung, mengingat tema dan cerita kedua film tersebut sangat berbeda. Namun, Sofia yang berhasil meraih penghargaan (Best Writing Academy Award 2003) lewat film LIT yang memang memiliki keunikan dibandingkan dengan sutradara kebanyakan, menjelaskan bahwa yang ingin dikemasnya dalam sebuah trilogy adalah kisah yang menjadi tema dalam film, yang berkisah tentang perempuan menghadapi “dunia”. Pada LIT, si perempuan dalam film tersebut masih belum menemukan identitas dan menghadapi kesulitan menghadapi “dunia”.
Nah, lewat film Marie Antoinette, yang didasarkan pada kisah sejarah ratu Prancis yang doyan pesta, menghamburkan uang dan kemudian terkenal dengan hukum pancungnya, si perempuan dalam film ini sudah menemukan identitas dan berani untuk menghadapi “dunia”. Banyak review yang saya baca terkesan menyalahkan Sofia karena interpretasinya terhadap sejarah Marie Antoinette tidak sesuai dengan espektasi dan gambaran sejarah umum mereka terhadap Marie Antoinette. Untuk poin ini, saya sedikit berbeda. Kita semua tahu, bahwa interpretasi sejarah itu tidaklah mutlak, terlalu banyak versi, sehingga terkadang ambigu. Selalu ada kecurigaan adanya kepentingan pihak tertentu merekayasa sejarah menurut kemauan mereka. Saya melihat Sofia ingin keluar dari belenggu kekakuan dalam interpretasi sejarah yang harus dilihat dari satu sudut pandang saja. Dengan tegas, lewat filmnya ini, Sofia seperti berkata, “Ini nih Marie Anotinette versi saya”. Dan Sofia menurut saya berhasil keluar dari espektasi kebanyakan dan dengan egoisnya memfilmkan sejarah Marie Antoinette dengan gayanya sendiri.
Sofia mengambil sudut pandang sejarah Marie Antoinette secara personal, seperti mengajak kita mendengar Marie Antoinette “berbicara” kepada kita sepanjang film. Dimana dia sangat tertekan dengan bakunya suasana di dalam istana, suaminya yang sangat tidak hangat, serta pendapat orang disekeliling yang sangat mengganggu. Sofia terus membuat Marie Antoinette secara intens “berbicara” kepada penonton. Dan hal inilah yang menyebabkan film ini sangat sedikit memasukkan unsur terpenting dalam sejarah Marie Antoinette, yaitu Revolusi Prancis dan Hukum Pancung tersebut.
Sehingga maaf-maaf saja kalau film ini terkesan acak-acakan. Meski terkesan acak-acakan, Sofia tetap tidak akan dapat menyembunyikan keseriusannya, ini terlihat dari property seperti kostum dan lansekap yang sangat memesona mata itu.
Dan meski terlihat memaksakan diri, Sofia tetap saja mengabsurdkan film dengan tambahan musik modern yang memang menjadi ciri khasnya. Sebut saja The Cure, New Order, hingga Siouxie and The Banshee, dilanjutkan dengan serbuan musik elektronik semisal The Radio Dept dan Aphex Twin.
Bisa dibilang, walaupun tidak seperti LIT yang benar-benar total fuck you (mulai dari cerita hingga komposisi musik yang semaunya), Marie Antoinette bisa dibilang seperti orang Islam makan babi.
.Hmm.
No comments:
Post a Comment